Banyak hal yang terjadi selama perjalanan panjang kami meneruskan #EnergiBaik ke berbagai sektor.
Melalui kaleidoskop ini kami merangkum kejadian penting yang terjadi selama kurun waktu tersebut. Kami harap perjalanan kami dapat memicu kesadaran penggunaan gas bumi agar semakin banyak juga #EnergiBaik yang tersebar

1859 – L.I. Enthoven & Co

1862 – Batubara untuk Lampu

1863 – L.I. Enthoven & Co ke NV NIGM

1863 – Pabrik Gas pertama di Indonesia

1864 – Bibit infrastruktur gas rumah tangga Indonesia

1874 – Pabrik Gas Surabaya

1895 – Ketidakadilan golongan sosial

1898 – Pabrik Gas Semarang

1942 - 1945

PRODUKSI TANPA ISTIRAHAT

Hindia Belanda menyerah tanpa syarat kepada Jepang. Semua aset diambil alih termasuk Perusahaan Listrik dan Gas.

PIPA MENJADI SENJATA

Kebutuhan senjata untuk Jepang telah mengubah objektif Jepang dalam membangun sarana kepentingan listrik dan gas untuk konsumen.

1945 - 1958

PENGAMBILALIHAN PERUSAHAAN JEPANG (1945)

Perusahaan Listrik dan Gas diganti menjadi Djawatan Listrik dan Gas, dan ditetapkan masuk Departemen Pekerjaan Umum dengan Penetapan Pemerintah No.1/SD/1945, 27 Oktober 1945.

Dengan penetapan tersebut, maka status pegawai Perusahaan Listrik dan Gas adalah Pegawai Negeri.

PERJANJIAN LINGGARJATI
(1947)

Setelah proklamasinya, Indonesia kembali melawan Belanda, secara fisik dan melalui diplomasi.

25 Maret 1947, perjanjian Linggarjati digelar.
Tapi tak lama kemudian terjadi Aksi Militer I, pada 21 Juli 1947. Semua perusahaan swasta Belanda yang telah diambil alih dikembalikan, termasuk Perusahaan Listrik dan Gas.

Walau perlawanan terhadap Belanda tetap terjadi di berbagai daerah, pelayanan serta distribusi gas kepada pelanggan tetap berjalan.

KONFERENSI MEJA BUNDAR (KMB)
(1949)

Perjuangan diplomasi untuk mempertahankan kemerdekaan dilakukan melalui Konferensi Meja Bundar (KMB), 23 Agustus - 2 November 1949, di Den Haag, Belanda.

Walau akhirnya kedaulatan RI diakui, kegagalan perundingan memicu Indonesia untuk terus berjuang membatalkan hasil KMB, memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda, dan melarang penggunaan bahasa Belanda di media massa dan film, serta pengambilalihan perusahaan-perusahaan milik Belanda, termasuk Djawatan Listrik dan Gas.

KEBIJAKAN BUMI HANGUS
(1949)

Guna mempertahankan diri dari serangan-serangan tentara sekutu, Pemerintah RI memutuskan untuk menghancurkan instalasi-instalasi vital agar tidak jatuh ke tangan musuh.

Selama Agresi Militer I (21 Juli - 4 Agustus 1947) oleh Belanda, di lingkungan Djawatan Listrik dan Gas dilakukan penghancuran terhadap instalasi yang telah dikuasai NICA, antara lain PLTA Lamajan (Jawa Barat), PLTA Jelok (Jawa Tengah), Gardu Induk Kanigaran serta PLTA Siman di Probolinggo (Jawa Timur).

DJAWATAN LISTRIK DAN GAS DIBUBARKAN (1949)

Dengan kembalinya Pemerintah RI ke Yogyakarta pada tanggal 6 Juli 1949, semua perusahaan listrik swasta dikembalikan kepada pemiliknya.

Kejadian-kejadian tersebut mempunyai arti bahwa Djawatan Listrik dan Gas telah dibubarkan, dan dijadikan Kantor Oeroesan Barang-barang RI (KOBRI), yang kemudian menjadi Djawatan Perlengkapan, yang berada di bawah Kementerian Perhubungan.

MENJADI DJAWATAN TENAGA
(1952)

Ketika Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri sebagai ganti RIS (6 Mei 1950), Pemerintahan RI dipindahkan ke Jakarta (1 Januari 1951).

Djawatan Perlengkapan dibubarkan dan Djawatan Listrik dan Gas dihidupkan kembali dengan nama Djawatan Tenaga yang dipimpin oleh Ir. R.M. Koesoemaningrat, dan berada di dalam lingkungan Departemen PU.

INSTALASI GAS TERMODERN DI ASIA
(1956)

Kegiatan operasi Djawatan Tenaga yang sudah meliputi pengusahaan listrik, sejak 3 Mei 1950 nama perusahaan diganti ke NV Overzeese Gas en Electriciteit Maatschappij (NV OGEM).

Demikian pula di Surabaya yang pada tahun 1956 telah membangun Automatic Cyclic Catalytic Cracking of Gas Oil atau dikenal dengan ONIA GEGI dengan kapasitas 40.000 m3/hari, yang pada saat itu merupakan instalasi paling modern di Asia.

NASIONALISASI PERUSAHAAN BELANDA (1958)

27 Desember 1958 terbit Undang-Undang Nasionalisasi Perusahaan Belanda (Undang-undang No. 86/1958) yang menjadi dasar hukum yang kuat bagi Pemerintah Indonesia untuk mengambil alih kembali NV OGEM, yang telah dilakukan sejak 1950-an oleh para karyawan, buruh, dan Angkatan Muda di lingkungan Perusahaan Listrik dan Gas.

1962 - 1965

PUNCAK PRODUKSI GAS PGN
(1962)

Dalam periode 1960 - 1969, total produksi gas NV OGEM mengalami peningkatan pada dua tahun pertama dan mencapai puncaknya pada tahun 1962 mencapai angka 57 juta meter kubik.

PGN DAN PLN DIPISAH
(1965)

13 Mei 1965 , PP No. 19 Tahun 1965 yang ditandatangani oleh Presiden Soekarno memutuskan Pembubaran Badan Pimpinan Umum Perusahaan Listrik Negara dan Pendirian Perusahaan Listrik Negara (PLN) dan Perusahaan Gas Negara (PGN).

13 Mei 1965 resmi menjadi Hari Jadi Perusahaan Gas Negara.

1962 - 1969

PEKERJAAN UMUM DAN TENAGA LISTRIK (1962)

Berdasarkan PP No. 19 Tahun 1960, periode 1969 - 1974 PGN berstatus sebagai Perusahaan Negara dan bernaung di bawah binaan Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik dengan Menteri Ir. Sutami.

Kantor Pusat PGN saat itu berada di Jl. M.I. Ridwan Rais No. 2 (Menteng Raya) Jakarta.

KRISIS ENERGI DUNIA
(1962)

Perang Timur Tengah berdampak terhadap pembatasan ekspor minyak dari Timur Tengah dan negara-negara importir minyak. Proses gasifikasi batubara dilakukan negara-negara maju secara besar-besaran dan menyebabkan PGN kesulitan mendapatkan impor baturbara.

JENIS GAS PGN
(1969)

Ditinjau dari metode dan bahan baku produksinya, jenis gas yang disalurkan oleh PGN kepada para pelanggan hingga 1969 digolongkan ke dalam (4) empat kategori; Gas bumi, Gas batubara, Gas minyak EG, Gas minyak ONIA GEGI.

INFLASI INDONESIA
(1969)

Setelah penjualan tertinggi pada tahun 1962, PGN mengalami masa-masa sulit. Volume penjualan terus menurun sementara situasi politik dan ekonomi nasional saat itu tidak memberikan keleluasan untuk memperbaiki keadaan.

Inflasi yang lebih dari 600% menyulitkan PGN untuk memperoleh batubara, bahan baku produksi gas, dan juga berdampak pada operasional, pemeliharaan, serta pengembangan peralatan produksi dan distribusi.

1974 - 2012

TITIK KEBANGKITAN PGN (1974)

1974, penyaluran gas bumi di cabang Cirebon untuk industri perkapuran skala kecil menjadi titik kebangkitan PGN.
Kota Cirebon yang tadinya hanya cabang dengan sedikit penjualan berubah menjadi cabang dengan volume penjualan terbesar.

KRISIS MINYAK DUNIA
(1978)

Berdasarkan GBH tahun 1978, pemerintah menetapkan Kebijaksanaan Nasional Bidang Energi guna melepaskan ketergantungan minyak bumi.

Banyak ditemukan di Indonesia pada awal dekade 70-an, gas bumi yang proses konversinya lebih sederhana, menjadi alternatif utama pengganti minyak bumi.

GAS KOTA MASUK KE JAKARTA
(1979)

Infrastruktur distribusi gas bumi untuk kota Jakarta mulai dikembangkan secara ekstensif.

GAS KOTA MASUK KE BOGOR
(1981)

Infrastruktur distribusi gas bumi untuk kota Bogor mulai dikembangkan secara ekstensif.

MENJADI PERUM
(1984)

Dengan PP No. 27 Tahun 1984 status hukum perusahaan PGN diubah dari Perusahaan Negara (PN) menjadi Perusahaan Umum (Perum).

GAS KOTA MASUK KE MEDAN
(1986)

Infrastruktur distribusi gas bumi untuk kota Medan mulai dikembangkan secara ekstensif.

PROYEK PEMANFAATAN GAS
(1990)

Mendukung program pemerintah untuk melepaskan ketergatungan dari minyak bumi dengan gas bumi untuk pembangkit tenaga listrik, industri dan komersial.

STUDI PEMANFAATAN GAS BUMI DI SUMATERA SELATAN (1992)

Mendukung program pemerintah untuk melepaskan ketergatungan dari minyak bumi dengan gas bumi untuk pembangkit tenaga listrik, industri dan komersial.

PGN MENJADI PERSERO TERBATAS
(1992)

Di tengah-tengah negosiasi antara pemerintah dengan ADB mengenai proposal Proyek Transmisi dan Distribusi Gas Indonesia, pada tahun 1994 melalui PP No. 37 Tahun 1994 status hukum PGN dialihkan dari Perum menjadi Persero sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Nomor 9 Tahun 1969.

GAS BUMI MASUK SURABAYA
(1994)

Mulai dioperasikan Februari 1994, jangkauan jaringan membentang 120 km untuk Probolinggo-Mojokerto dan 70 km untuk Gresik-Pandaan.

GAS KOTA MASUK KE PALEMBANG
(1956)

Infrastruktur distribusi gas bumi untuk kota Palembang mulai dikembangkan secara ekstensif.

JALUR GRESIK - DURI SELESAI
(1958)

PGN menyelesaikan jalur Gresik – Duri yang kemudian diikuti dengan pembentukan entitas anak di bidang transmisi yaitu Transportasi Gas Indonesia.

SAHAM PGAS DI BURSA EFEK
(2003)

Saham perseroan telah dicatatkan di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya pada 15 Desember 2003 dengan kode transaksi PGAS.

JALUR GRESIK - SINGAPURA SELESAI
(2003)

PGN menyelesaikan jalur Gresik – Singapura.

GAS KOTA MASUK PEKANBARU DAN BATAM
(2005)

Infrastruktur distribusi gas bumi untuk kota Pekanbaru dan Batam mulai dikembangkan secara ekstensif.

JALUR SUMATERA SELATAN - JAWA BARAT SELESAI (2007)

Pembangunan Jaringan Transmisi Sumatera Selatan- Jawa Barat selesai dilaksanakan.

PGN MENAMBAHKAN PT. PGAS SOLUTION
(2009)

PGN mendirikan 1 entitas anak perusahaan, PT PGAS Solution.

PGN MENAMBAHKAN 2 ENTITAS ANAK PERUSAHAAN (2011)

Mendirikan 2 entitas anak perusahaan, masing-masing bergerak di bidang hulu dan hilir bisnis gas bumi.

Di bidang hulu adalah PT Saka Energi Indonesia (SAKA), dan di bilang hilir adalah PT Gagas Energi Indonesia (GAGAS).

PGN MENAMBAHKAN 1 ENTITAS ANAK PERUSAHAAN (2012)

Mendirikan satu lagi entitas anak perusahaan yaitu PT PGN LNG Indonesia (PGN LNG), yang melakukan pengadaan pasokan, transportasi dan pengangkutan LNG.

LAUNCHING NUSANTARA REGAS (FSRU JAWA BARAT) (2012)

Pembangunan Jaringan Transmisi Sumatera Selatan- Jawa Barat selesai dilaksanakan.

2013

PASOKAN GAS BUMI UNTUK PELANGGAN SEKTOR KELISTRIKAN (21 JAN)

Menjamin pasokan gas bumi ke PLTGU Muara Tawar, Jawa Barat hingga 2014 PGN sekaligus membantu mengurangi beban subsidi listrik pemerintah.

PEMBANGUNAN PIPA GAS BUMI CIKANDE - BITUNG (22 JAN)

Jaringan pipa gas bumi ini akan langsung mengalir ke sistem distribusi Banten Timur yang telah terhubung ke sistem distribusi PGN di Jawa Barat (Banten-Jakarta-Bekasi & Karawang).

PEMBANGUNAN SALAH SATU FLOATING STORAGE REGASIFICATION UNTI TERBESAR DI DUNIA (28 PEB)

Bekerja sama dengan Hoegh LNG Ltd, Norwegia dan PT Rekayasa Industri FSRU Lampung yang mampu menampung 170.000 M³ LNG dan mendistribusikan 240 MMSCFD* Gas Bumi ini direncanakan usai dibangun Semester II 2014.

*Million Standard Cubic Feet per Day

PROGRAM BUMN PEDULI PENDIDIKAN
(7 MAR)

Mengapresiasi guru & siswa berprestasi dari daerah terpencil, pulau terluar dan wilayah perbatasan Indonesia, PGN berperan sebagai koordinator untuk 23 BUMN.

PEMBANGUNAN JARINGAN PIPA GAS BUMI PANARAN, TANJUNG UNCANG (10 MAR)

Ditargetkan beroperasi awal 2014, infrastruktur jaringan pipa senilai 183 Miliar Rupiah ini akan membentang sepanjang 18 km.

PERESMIAN SPBG BERJALAN PERTAMA DI INDONESIA
(19 MEI)

Mengadaptasi nama Gaslink, Mobile Refueling Unit (MRU) PGN yang ditujukan untuk memudahkan akses BBG bagi pelanggan sektor transportasi ini mulai beroperasi 22 Juni 2013, bersamaan dengan ulang tahun Jakarta.

JAKARTA KOTA GAS
(19 MEI)

Mendukung pemanfaatan gas bumi untuk sektor rumah tangga dan transportasi untuk Ibukota yang bersih dari polusi dan subsidi.

HUT PGN KE-48
(19 Mei)

Dalam rangka merayakan HUT ke-48, PGN meneruskan energi baik bersama warga Jakarta melalui acara Pesta Rakyat di Monas. Acara terdiri dari lomba lari 6 KM, panggung musik, bazar-bazar, kuliner, games-games dan ratusan doorprize.

PGN THE BEST AGENT CONTACT CENTER 2013
(12 JUN)

Meraih penghargaan kategori Bronze atas pelayanan prima kepada pelanggan dan stakeholder dalam acara The Best Contact Center Indonesia 2013.

PGN PEDULI BERBAGI SEMBAKO RAMADHAN 1434 H
(4 JUL)

Membagikan gratis 32.000 paket Sembako ke mereka yang membutuhkan sebagai bagian dari program CSR.

31 Jul – Indonesia Green Company dan Sri Kehati Award dari Indonesian Biodiversity Foundation

21 Agu – Social Business Innovation 2013 Award dari Warta Ekonomi

3 Sep – Penghargaan Dharma Karya Energi dan Sumber Daya Mineral Muda dari Kementerian ESDM RI

3 Okt – Penghargaan The World Biggest Public Companies versi The Global 2000 dari Forbes

5 Okt – Festival Gerakan Indonesia Mengajar

25 Nov – Best of the Best Award versi The Top Companies for 2013 dari Forbes Indonesia

6 Des – Anugerah BUMN 2013 – Membangun Daya Saing Menuju BUMN Unggulan

9 Des – Penghargaan Pelaporan LHKPN Tahun 2013 dari Pekan Anti Korupsi